Rabu, 29 Mei 2013

PKS dan wanita-wanita cantik?


Belakangan ini Saya sangat terganggu dengan berita di media massa (salah satu stasiun TV swasta)  tentang PKS dan wanita-wanita cantik. Saya merasa terganggu karena Saya tidak menemukan relasi antara a) PKS, dan b) wanita-wanita cantik. Mungkin karena daya nalar Saya tidak mampu menangkap maksud dari judul berita salah satu TV swasta tersebut atau bisa jadi juga karena si penulis berita kurang nalar dalam menyusun pemberitaannya. Apalagi setelah menonton tayangan tersebut beberapa waktu Saya gagal total dalam menemukan ujung dan pangkal berita yang disampaikan kemudian.

Saya yang gagal jadi publik penikmat berita atau si penulis berita yang gagal dalam melakukan proses data dan informasi di dalam sistem kognitifnya? Lalu kenapa kalau ternyata F memiliki sekian wanita cantik? Apa akan mempengaruhi kesaksiannya di pengadilan tipikor? Apa akan membuat dia mendapat tambahan dakwaan tindakan asusila? Apa memiliki sekian wanita cantik menjadi indikasi korupsi, bahwa jumlah  wanita cantik berbanding lurus dengan nilai korupsinya? Hingga kemudian seorang LHI juga dikabarkan memiliki wanita cantik yang baru saja lulus UN, benar atau tidak berita ini Saya tidak peduli dan tidak tertarik. Membuat Saya jadi repot mengganti channel setiap kali muncul di berita. Membuat pegal jempol tangan Saya.

Karena sedang merasa terganggu inilah, mohon dimaafkan jika bahasa dalam tulisan Saya tidak santun.
Hingga kemudian judul berita diganti, “wanita-wanita cantik F” atau “F dan wanita-wanita cantik”, lebih pas dan lebih tidak berguna. Karena faktanya, selain informasi-informasi tidak penting bahwa ternyata si A adalah istri ke-tiga dan B ternyata simpanan si F dan si C ternyata hanya teman yang kebetulan mendapat hadiah mobil, dan seterusnya dan seterusnya, penikmat berita tidak mendapat apa-apa lagi. Apa pembelajaran yang bisa kita ambil? Bahwa menjadi koruptor berarti bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan? Atau bahwa ada kecenderungan poligami yang terjadi di PKS atas nama pergaulan dengan lawan jenis menjadi halal?

Apalagi setelah berita semacam ini masuk ke tayangan gosip, membuat mules perut Saya. Kasus korupsi mulai diberitakan setelah artis yang menjadi legislatif mejadi tersangka KPK, lalu kemudian petinggi KPK menjadi “artis”  program gosip pula. Bukan salah KPK-nya (menurut Saya), program gosip hanya berusaha menjadi ‘lebih berguna’ dan ‘lebih berbobot’ karena tidak hanya sekedar menayangkan berita artis X yang nikah muda sedang belajar mengganti popok bayinya. 

Saya bukan kader PKS (Saya bahkan bukan simpatisan PKS) karena itu Saya terganggu bukan karena merasa disakiti oleh pemberitaan media. Apakah kasus suap impor daging adalah dosa individu atau dosa institusi, biarkan nanti hukum yang memutuskan. Hanya satu hal yang sudah pasti terjadi, PKS sedang disakiti. Saya merasa dirugikan sebagai publik penikmat berita karena berita-berita semacam itu terus saja dipublikasikan dengan semena-mena (tanpa melihat jam tayang dan durasi atau redaksional dari pemberitaannya) dan tanpa mempertimbangkan ekses dari pemberitaan. Saya tidak bicara tentang ekses dalam lingkup besar, yang Saya maksudkan adalah ekses dalam skala yang lebih kecil seperti pendapat pribadi seseorang (persepsi, opini, dan kemudian justifikasi).

Seseorang mendapat pembenaran dan energi negatif untuk menilai, menghujat, atau bahkan menghakimi secara sepihak tanpa ia sadari. Seseorang di sini bisa jadi adalah bapak-bapak, nenek-nenek, bahkan anak-anak. Apa yang akan terjadi ketika ‘sinetron low-budget’ seperti ini tayang pada jam dimana seharusnya seseorang menyerap informasi dari tayangan berita? Kita akan menjadi hater, menjadi penyebar kebencian dan ahli menggalang opini publik hanya untuk menyudutkan dan menghakimi sesuatu atau seseorang tanpa merasa perlu melihat masalahnya secara berimbang atau bahkan berusaha untuk konfirmasi. Lalu kemudian beralasan bahwa yang kita lakukan hanyalah reaksi. Shame.

Karena Saya pikir berita tentang F atau istri muda LHI hanya ‘sinetron low-budget’ saja, Saya terpaksa tertawa terbahak-bahak ketika petugas sita KPK mendapat sambutan spanduk besar di depan kantor PKS. Berbagai pernyataan dari salah seorang petinggi PKS juga yang akhirnya membuat Saya berpikir, “Apa cuma Saya yang beranggapan bahwa pemberitaan yang bukan substansi kasus suap impor daging adalah ‘sinetron low-budget’?” Kalau benar bukan dianggap ‘sinetron low-budget’, spanduk selamat datang sebaiknya bertuliskan: “Come and Get Me”. 

Mungkin memang perlu memasang spanduk. Mungkin memang perlu berdebat tentang bisa atau tidaknya mobil-mobil tersebut disita dilihat dari aspek hukum. Mungkin memang perlu bersuara keras tentang keluar dari koalisi hingga terdengar seperti bluffing. Entahlah. Mungkin Anda akan berpikir  bahwa Saya naif, silahkan saja, Saya tidak keberatan. Menurut Saya, jika ada pertanyaan apakah sebaiknya melakukan hal yang baik atau hal yang benar, sebaiknya hal yang baik yang dilakukan. Kinder than is necessary – Wonder by RJ Palacio. Karena kebaikan tidak akan pernah menjadi salah. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Saya katakan tidak mudah karena kebaikan memiliki kecenderungan menjadi kualitatif, tidak bisa diukur.

Seperti halnya para korban penghakiman yang lain, PKS akan mengalami masa “menjelaskan tidak akan dipercaya alias percuma dan membuang waktu, tidak dijelaskan dianggap takut muncul karena bersalah”. Sebagai pribadi yang tidak lepas dengan hubungan antar-pribadi, Saya bisa mengatakan bahwa dilema seperti itu tidak mudah tapi bukan tidak mungkin untuk dilalui. Publik tidak butuh penjelasan, publik butuh aib untuk ditertawakan karena menertawakan aib orang lain seringkali akan membuat seseorang lupa dengan kepahitan hidupnya.

Ada atau tidaknya aib yang dibicarakan tidaklah penting, yang penting adalah ada sesuatu yang bisa dibicarakan. Penyakit ini juga sepertinya menyerang media massa kita sekarang ini. Lalu untuk apa kita repot menyenangkan orang lain yang lebih tertarik untuk melihat kita hancur dan kesakitan daripada mendengar kebenaran? Apa kita akan menjadi orang bodoh yang berteriak di tengah badai? Apa kita akan menjadi pemain panggung dengan penonton yang membuang muka setiap kali melihat sesuatu yang nyata tapi tidak mereka inginkan? Kebenaran tidak penting, karena ‘sinetron low-budget’ lebih menarik.

Seseorang tumbuh dan berkembang ketika sedang menghadapi masalah, sebagai masa-masa pembelajaran, demikian juga dengan organisasi. Masalah adalah harga yang harus dibayar untuk sampai pada level tertentu dan jangkauan tertentu. Harganya mahal, karena apa yang akan didapatkan nanti juga bernilai tinggi. Ketika menghadapi dilema ‘menjelaskan atau tidak menjelaskan’, setiap dari kita akan bertanya apa saja yang kita miliki sebagai modal baik untuk menyerang atau bertahan. Tapi semakin dipikirkan, kita akan sampai pada kesadaran bahwa kita sudah memiliki semua yang kita butuhkan. Tidak perlu mencari-cari, karena akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. Saya akan sebut tindakan mencari-cari ini sebagai ‘reaksi yang berlebihan”.

Bereaksi berlebihan itu wajar mengingat rasa sakit yang didapat, tapi lakukanlah dengan cepat. Tidak usah bertele-tele dan mengasihani diri sendiri. Kita merasakan tiupan angin kencang karena kita lebih tinggi daripada obyek lain di sekitar, karena itu pilihan terbaik adalah bertahan. Tidak perlu memperjelas rasa sakit yang dirasakan di internal dengan cara sepak sana dan sepak sini. Fokus pada apa saja yang dimiliki lalu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk tujuan yang lebih besar. Saya tidak ingin menggunakan istilah ‘merapatkan barisan’ karena sudah terlalu old fashion. Tapi kurang lebihnya, ‘merapatkan barisan’, seperti itulah yang sebaiknya dilakukan. Bukan untuk menyerang, tapi untuk saling menguatkan. Seperti yang selayaknya dilakukan oleh sebuah keluarga.

Ah, beruntung sekali PKS. Mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih elok dan anggun. Tentu saja jika permasalahan ini ditangani dengan cemerlang. Let it go. Let it flow, tapi jangan pernah kehilangan jati diri. Semoga saja. Karena terus-terang beberapa tahun belakangan ini Saya tidak mengerti arah politik PKS, tapi itu bukan masalah besar, toh Saya bukan politisi atau pengamat atau seseorang yang berpengaruh. Saya cuma punya satu suara untuk diri Saya sendiri, itupun hanya dipakai setiap lima tahun sekali.

Meski bukan kader atau simpatisan, Saya turut berduka karena kasus suap impor daging ini. Entah bagaimana menjelaskannya, all the pain is the same. Setiap elemen dari sistem politik kita ini memiliki sumbangsih yang besar untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita nanti. Berbanggalah orang-orang yang berjuang di ranah politik praktis di luar sana, bertahan sekuat tenaga di dalam sebuah sistem. Orang lain mungkin akan mengejek Anda yang berniat jadi caleg, orang lain mungkin menyindir Anda sebagai poli-tikus. Biarkan saja, karena hanya sejauh itulah yang ingin dan mampu mereka lakukan. Kekuatan untuk menahan ejekan dan sindiran, semoga menjadi pengingat untuk selalu berada di jalan yang benar. Aamiin.

Rabu, 08 Mei 2013

guru spiritual


Beberapa bulan terakhir Anda pasti sangat familiar dengan keributan luar biasa tentang ‘guru spiritual’ bertitel Eyang S? Banyak pro-kontra terjadi mulai dari opsi tidak percaya adanya guru spiritual hingga percaya dengan adanya guru spiritual dengan syarat-syarat tertentu. Secara pribadi, Saya beranggapan bahwa guru spiritual itu memang eksis, dia benar-benar ada. Apakah berbentuk dalam Eyang S atau figur-figur yang lain. Masalah apakah ia benar atau salah, itu tidak perlu dibicarakan, Saya hanya mempercayai eksistensinya.

Kita membutuhkan guru sejarah, guru matematika, guru mengaji, dan sebagainya. Guru spiritual memang kita butuhkan terkait dengan permasalahan spiritual. Seperti halnya seorang penjahit yang ahli kain dan benang, seorang petani yang ahli mengolah tanah, seahli apapun ia keahliannya tidak akan bisa mencakup tentang segala hal. Keterlibatan kita akan suatu keahlian, terjadi karena kita (pada saat itu) membutuhkan penyelesaian (atas sesuatu yang diluar keahlian kita). Karena itu, keterlibatan seorang guru spiritual dalam setiap (atau semua?) aspek kehidupan kita hanya akan terjadi jika (dan hanya jika) kita mengijinkannya.

Apakah kita (jika kebetulan kita merasa membutuhkan guru spiritual) menyadari bahwa tidak ada buku yang memuat tentang segala hal? 

Tidak ada buku yang bisa menjawab semua pertanyaan.

Kalaupun kita merasa telah bertemu dengan buku penjawab segala, pada titik tertentu, kita (akan selalu) membutuhkan second opinion. Karena (menurut Saya), keberadaan kita sebagai manusia hanya akan terdeteksi dengan keterlibatan kita atas suatu diskursus. Apakah diskursus tersebut terjadi antara Anda dengan orang lain atau Anda dengan diri Anda sendiri, itu cuma masalah selera. Jika tidak terjadi sama sekali, maka kita lenyap, hilang. 

Karena itu Saya sangat mengerti (hanya pendapat pribadi yang memiliki kecenderungan sok tahu, Saya) ketika  seorang Adi BS merasakan kehilangan yang teramat sangat dan membenci dengan kesungguhan hati, semuanya terjadi dalam pola yang tidak beraturan. Tentu saja ia harus menghadapi proses yang tidak mudah. Ketika permasalahan seperti itu dibawa ke jalur hukum sekalipun, saya yakin, ia tidak akan segera menemukan yang telah hilang.

---- 

Saya tidak tahu kenapa Saya menulis tentang hal ini, dan bahkan posting tulisan ini, di sini. 


Note: Kenapa setelah menyebut subyek bernama “guru”, “penjahit”, dan “petani” Saya beralih ke subyek “buku”? Anda tahu? Tidak tahu? Seorang “guru”, “penjahit”, dan “petani” menentukan metode validasinya sendiri ketika validitas “buku” ditentukan ketika ditulis (oleh penulisnya) lalu kemudian ditentukan (lagi) sesudahnya oleh pembacanya. Maaf kalau Anda merasa tidak mengerti apa yang Saya maksudkan. Saya tidak bermaksud atau berkeinginan untuk dimengerti. Karena sangat melelahkan, meminta orang lain untuk mengerti.

Senin, 06 Mei 2013

heaven - ailee

Niga inneun gose nado hamkke halke..

Niga ganeun gose nado hamkke kalke..

Neol wiihaeseo maeil utko
neol wiihaeseo gidohago..
Ni saenggage jamdeulko
neol bureumyeo nuneul tteo..
Nae yeopeseo jikyeojugo
nae yeopeseo kamssajuneun..
Neon naye cheonkuginkeol..

You’re my only one way..
Ojing neoreul wonhae naega
ni gyeote isseume kamsahae..
You’re the only one babe..
Himdeun sesang soge sarangeuralke
 haejun neo hanaro naneun haengbokhae..

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Uri hamkkeramyeon
we will never cry never never cry..
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Yeongwonhi duriseo
never gonna be alone..

Ni pumeseo sumeul shwiigo
ni pumeseo immajchugo..
Ni moksoril deureumyeon
kkum kkuneun geot man gata..
Ni nuneseo al su isseo
ni sarangeural su isseo..
Neon naye cheonkuginkeol..

You’re my only one way..
Ojing neoreul wonhae naega
ni gyeote isseume kamsahae..
You’re the only one babe..
Himdeun sesang soge sarangeuralke
haejun neo hanaro naneun haengbokhae..

Heaven namani saram keurae
nareul jikyeojul saram..
Eotteon seulpeumdo eotteon
apeumdo neowah hamkke handamyeon..
Eoneu nugudo nan bureobji anha..
tteollineun du soneul jabajwo
Naega saneun iyu neonikka..

You’re my only one way..
Ojing neoreul wonhae naega
ni gyeote isseume kamsahae..
You’re the only one babe..
Himdeun sesang soge sarangeuralke
haejun neo hanaro naneun haengbokhae..

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Uri hamkkeramyeon
we will never cry never never cry..
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Yeongwonhi duriseo
never gonna be alone..
Oh, so alone


English Translation

Where you are, I will be there too
Where you go, I will go there too

I smile for you every day, I pray for you
With thoughts of you, I fall asleep - I open my eyes as I call for you
You protect me by my side and you embrace me
You are my heaven

You're my only one way
Only for you - I am thankful that I am next to you
You're the only one babe
You taught me love in this harsh world - I am happy with you alone

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
If we're together we will never cry never never cry
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
Forever, together - never gonna be alone

I breathe in your arms, we kiss in your arms
When I hear your voice, it feels like I'm dreaming
I can tell from your eyes, I can tell about your love
You are my heaven

You're my only one way
Only for you - I am thankful that I am next to you
You're the only one babe
You taught me love in this harsh world - I am happy with you alone

Heaven - my only person, yes the person who will protect me
Any sadness, any pain - if only I'm with you
I'm not jealous of anyone else - hold my two trembling hands
Because the reason I live is you

You're my only one way
Only for you - I am thankful that I am next to you
You're the only one babe
You taught me love in this harsh world - I am happy with you alone

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
If we're together we will never cry never never cry
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
Forever, together - never gonna be alone
Oh, so alone


video klip ada di sini

the fault in our stars


“There will come a time,” I said, “when all of us are dead. All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this”—I gestured encompassingly—“will have been for naught. Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organisms experienced consciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that’s what everyone else does.”
--- 
After I finished, there was quite a long period of silence as I watched a smile spread all the way across Augustus’s face—not the little crooked smile of the boy trying to be sexy while he stared at me, but his real smile, too big for his face. “Goddamn,” Augustus said quietly. “Aren’t you something else. 
Hazel & Ausgustus - The Fault in Our Stars by John Green

Saya sangat menyukai karakter Hazel di novel ini. Hazel adalah seorang teenager berusia 16 tahun yang menderita kanker paru-paru. Ketika Hazel digambarkan tidak suka keluar rumah dan bergaul, Saya berpikir bahwa menderita kanker membuat ia menolak berinteraksi dengan orang lain. Ternyata, memang begitulah Hazel. Diam di dalam rumah, membaca buku yang sama berkali-kali, menonton acara American Next Top Model sambil sibuk berkomentar, adalah sebagian dari aktiftas sehari-hari yang membuat Saya jatuh cinta dengan karekter Hazel. Karena sedikit banyak mirip Saya, melakukan berbagai aktivitas yang menurut orang lain sepele dan tidak penting dengan serius dan bersungguh-sungguh. 

Hazel menolak permintaan Ibunya untuk datang ke support group penderita kanker karena tidak ingin ketinggalan menonton American Next Top Model. Setelah diperoleh kesepakatan bahwa acara tersebut bisa direkam untuk ditonton kemudian, Hazel bersedia datang.

Hazel bertemu Augustus ketika mengikuti support group, menurut Hazel Augustus benar-benar HOT. Setelah mengenal Augustus melalui kacamata Hazel, menurut Saya Augustus memang benar-benar HOT. 

Patrick said, “Augustus, perhaps you’d like to share your fears with the group.” 
“My fears?”
“Yes.”
“I fear oblivion,” he said without a moment’s pause.  “I fear it like the proverbial blind man who’s afraid of the dark.”
“Too soon,” Isaac said, cracking a smile.
“Was that insensitive?” Augustus asked. “I can be pretty blind to other people’s feelings.”
Isaac was laughing, but Patrick raised a chastening finger and said, “Augustus, please. Let’s return to you and your struggles. You said you fear oblivion?”
“I did,” Augustus answered.

Hazel hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk memutuskan bersedia menonton film (V for Vendetta!) di rumah Augustus dan lagi-lagi meminta ibunya untuk merekam tayangan American Next Top Model! LOL.

I turned to the car. Tapped the window. It rolled down. “I’m going to a movie with Augustus Waters,” I said. “Please record the next several episodes of the ANTM marathon for me.”

Ada satu kalimat keren dari Hazel yang tidak bisa Saya lupakan ketika orang tua Augustus mengajak makan malam bersama.

“You’re joining us for dinner, I hope?” asked his mom. She was small and brunette and vaguely mousy. “I guess?” I said. “I have to be home by ten. Also I don’t, um, eat meat?” 
“No problem. We’ll vegetarianize some,” she said. “Animals are just too cute?” Gus asked. 
“I want to minimize the number of deaths I am responsible for,” I said. Gus opened his mouth to respond but then stopped himself. His mom filled the silence. “Well, I think that’s wonderful.”

Saya membaca novel ini tanpa jeda, karena hanya 180 halaman dan karena Saya tidak mampu berhenti. Saya belajar sesuatu tentang kematian, kehidupan, cinta, dan orang lain dari kacamata Hazel Grace Lancaster. Kemudian air mata berderai-derai waktu Saya membaca surat Augustus untuk Van Houten tentang Hazel. Mungkin waktu waktu membaca novel itu Saya hanya sedang melankolis saja. Atau..  karena pada suatu titik Saya menyadari banyak hal yang terjadi di novel itu yang tidak terbayangkan bisa terjadi di dunia nyata (tapi di suatu tempat pada seseorang, serupa tapi tak sama, hal seperti itu bisa saja terjadi). 

Van Houten, 
I’m a good person but a shitty writer. You’re a shitty person but a good writer. We’d make a good team. I don’t want to ask you any favors, but if you have time—and from what I saw, you have plenty—I was wondering if you could write a eulogy for Hazel. I’ve got notes and everything, but if you could just make it into a coherent whole or whatever? Or even just tell me what I should say differently. 
Here’s the thing about Hazel: Almost everyone is obsessed with leaving a mark upon the world. Bequeathing a legacy. Outlasting death. We all want to be remembered. I do, too. That’s what bothers me most, is being another unremembered casualty in the ancient and inglorious war against disease. 
I want to leave a mark. 
But Van Houten: The marks humans leave are too often scars. You build a hideous minimall or start a coup or try to become a rock star and you think, “They’ll remember me now,” but (a) they don’t remember you, and (b) all you leave behind are more scars. Your coup becomes a dictatorship. Your minimall becomes a lesion. 
(Okay, maybe I’m not such a shitty writer. But I can’t pull my ideas together, Van Houten. My thoughts are stars I can’t fathom into constellations.) 
We are like a bunch of dogs squirting on fire hydrants. We poison the groundwater with our toxic piss, marking everything MINE in a ridiculous attempt to survive our deaths. I can’t stop pissing on fire hydrants. I know it’s silly and useless—epically useless in my current state—but I am an animal like any other. 
Hazel is different. She walks lightly, old man. She walks lightly upon the earth. Hazel knows the truth: We’re as likely to hurt the universe as we are to help it, and we’re not likely to do either. 
People will say it’s sad that she leaves a lesser scar, that fewer remember her, that she was loved deeply but not widely. But it’s not sad, Van Houten. It’s triumphant. It’s heroic. Isn’t that the real heroism? Like the doctors say: First, do no harm. 
--- etc.

Pengen tahu apa lanjutan surat Augustus? Baca sendiri novelnya, download versi PDFnya di sini.
Happy reading! ^^